Go to Top

Kiat-Kiat Sukses di Bisnis Restoran

Bisnis restoran merupakan salah satu bisnis yang paling banyak dicoba orang. Kelihatannya gampang, tapi ternyata ada juga loh yang ga sukses. Sebagai seorang food blogger, Batam Dine sudah melihat berbagai jenis tempat makan mulai dari kaki lima, kopitiam, kafe, restoran biasa, restoran mahal, restoran di hotel, restoran di resort, dan lain-lain. Ada yang sukses bertahun-tahun, ada yang survive hanya satu atau dua tahun, dan ada juga yang tumbang dalam waktu singkat. Nah, buat kamu yang kepikiran pengen buka restoran baru atau meningkatkan penjualan restoran yang sudah ada, berikut tips and tricks dari Batam Dine.

1) Menu Restoran -> Branding

Ini adalah salah satu kegagalan terbesar dari restoran-restoran yang baru buka tapi tumbang dalam waktu singkat. Sebelum memulai sebuah restoran, pastikan dulu apa fokus menu restoran kamu. Kamu jualannya apa? Yuk fokus.

Starbucks Coffee (photo courtesy of www.informationweek.com)

Contoh: orang kalau ke Starbucks nyari apa? Kopi kan. Karena Starbucks mampu menciptakan branding image sebagai kafe penjual kopi. As simple as it is.

Contoh aneh tapi nyata:
Nama restoran: Bakso Raksasa
Menyediakan: Ayam Penyet, Soto Betawi, Gudeg Jogja, Tempe Goreng, dan lain-lain
Ini restoran jual bakso atau jual apa ya? Please deh guys, jangan bikin kesalahan kayak gini ya. Kalau jualnya bakso, ya udah fokus jualan bakso aja. Kalau mau tambah menu ayam penyet atau lainnya, it’s okay! But, jadikanlah bakso sebagai menu utama yang kamu jual, bukan ayam penyet atau lainnya.

Dengan fokus di keahlian inti, kamu bisa ciptakan branding restoran kamu sendiri, dan itu yang jadi daya tarik kamu nantinya, seperti Starbucks. Again, kalau kamu jagonya cuma di satu jenis makanan, fokus sama hal itu aja dulu. Kalau si pembeli datang ke restoran bakso tapi nyari menu ayam penyet yang memang ga dijual, itu bukan kesalahan si restoran, tapi kesalahan si pembeli yang ga jelas.

Sebuah restoran tidak harus memiliki segala jenis menu dari A sampai Z karena bisnis yang dibuka adalah bisnis restoran, bukan bisnis toko kelontong. Ok guys!

2) Taste is King

Taste is king

Ini dia faktor utama yang bisa bikin sebuah restoran sukses selama bertahun-tahun, yaitu konsistensi rasa. Mau sebagus apapun dekorasi restorannya, mau sebagus apapun lokasinya, kalau rasanya ga enak, yakin orang mau balik lagi? Mungkin ada, tapi berapa banyak dan sampai kapan. Jadi sebelum buka restoran, panggil dulu beberapa kerabat atau teman untuk nyobain. Minta pendapat mereka sejujur-jujurnya. Dengarkan apa kelebihan dan kekurangan makanan kamu. Kalau ada yang bisa ditingkatkan, practice. Don’t keep it in mind. Remember, taste is king. 🙂

3) Promosi

Promosi (photo courtesy of www.maoincheoil.com)

Dari jaman dulu sampai jaman sekarang, promosi itu wajib hukumnya. Apalagi untuk mengenalkan bisnis restoran yang baru kita lakoni. Memang kadang restoran ga punya banyak waktu untuk mikirin promosi. Tapi tenang aja, jaman sekarang semua serba instan. Bentuk promosi pun udah lebih banyak pilihan. Beberapa contoh bentuk promosi sebagai berikut.

a) Promosi dengan brosur

Ceritanya baru buka restoran nih, promosi dulu ah pake brosur. Habis itu? Nothing! Nungguin pelanggan datang dengan sendirinya. Iya kalo beli franchise ternama kayak KFC, tapi kalau pure restoran kamu sendiri, ga cukup deh guys. Anyway, berdasarkan statistik, mau tau tingkat efektifitas promosi dengan brosur? 0% alias zero.

Contoh: Kamu lagi di mall, pas mau naik eskalator, ada yang kasih brosur makanan, kamu ambil, baca bentar (iya kalau dibaca), trus? Buang di kotak sampah terdekat. Dateng ga ke restorannya? Bisa iya, bisa ngak, kebanyakan sih ngak. Hehehe…

Poin disini bukan mau bilang jangan promosi dengan brosur, tapi promosi itu ga bisa hanya dengan brosur trus nunggu orang datang. Ini adalah kesalahan fatal para pebisnis makanan and you should not go this way. Ok!

b) Promosi melalui koran

Promosi melalui iklan di koran merupakan cara konvensional yang masih diminati para pelaku bisnis. Faktor utamanya karena banyak yang baca koran. Pertanyaannya, apakah orang yang baca koran mau lihat iklan restoran? Ga semua loh. Contoh: Mr. BD kalau baca koran, yang dicari cuma berita olah raga bola, abis itu dilipet lagi. Ga ada tuh kepikiran lihat iklan-iklan yang ada. Hehehe… Biaya iklan di koran juga lumayan mahal loh ya. Kalau budget promosinya banyak, boleh juga sih. Namanya juga usaha, sedikit banyak pasti ada efeknya. 🙂

c) Promosi melalui media sosial

Hari gini ga main medsos ga gaul gitu ya. This is life! Suka atau ga suka, kita tetep kena arus perkembangan jaman. Jaman dulu, kalau makanan datang, ya langsung dimakan. Kalau sekarang, makanan datang, jeprat jepret dulu, masukin ke media sosial.

Media sosial merupakan alat promosi yang sangat powerful karena yang main media sosial banyak, terutama anak muda. Media sosial yang cocok untuk bisnis restoran saat ini adalah instagram dan facebook. Jadi, buatlah akun media sosial untuk restoran kamu supaya kamu bisa update makanan/minuman yang kamu jual. Media sosial juga membantu kamu berinteraksi dengan para pelanggan kamu nantinya.

d) Promosi melalui blogger pada umumnya atau food blogger pada khususnya

Food blogger adalah orang yang hobinya hunting kuliner dan share pengalaman kuliner mereka di blog/website yang mereka miliki. Selain blog/website, food blogger biasanya juga punya akun media sosial untuk berinteraksi dengan follower-nya. Uniknya food blogger, mereka punya pangsa pasar atau follower tersendiri yang ngikutin mereka untuk cari info tempat makan. Bahasa kerennya, pangsa pasar food blogger itu laser-targeted ke orang-orang yang memang nyari informasi kuliner.

Orang yang masuk ke website food blogger itu ngapain sih? 100% nyari informasi mengenai kuliner. Ga mungkin orang ke website food blogger nyari informasi tiket pesawat. Orang yang baca review food blogger biasanya lebih tertarik untuk nyobain restoran yang direkomendasikan.

Contoh: promosi chitato indomie yang kekinian itu loh. Tau kenapa bisa booming? Karena promosi melalui food blogger. Hype yang diciptakan sukses besar untuk bikin semua orang penasaran nyobain itu produk. Belum ada tuh iklan di koran atau tv, tapi demand-nya udah so high. Very well done!

Dibandingkan dengan koran, promosi melalui food blogger memiliki kelebihan sebagai berikut.

  1. Market niche atau pangsa pasar yang jelas, yaitu orang yang mencari informasi kuliner.
  2. Sekali promosi untuk jangka waktu selamanya. Kog bisa? Artikel yang dipublikasikan di website food blogger akan selamanya terekam oleh internet atau search engine seperti google. Jadi, kalau restoran kamu pernah dipublikasikan oleh food blogger, dua tahun kemudian orang search nama restoran kamu, pasti artikelnya masih bisa ditemukan dan dibaca. Lain halnya dengan koran, ga mungkin kan orang ngoprek koran dua tahun lalu untuk nemuin informasi restoran kamu. Hehehe…
  3. Hasilnya lebih kelihatan dengan biaya yang lebih murah.

e) Promosi melalui foodies

Promosi melalui foodies itu sama dengan promosi mouth to mouth, yang jaman sekarang ini dimediasi oleh akun media sosial seperti instagram, facebook, twitter, atau lainnya. Foodies adalah orang-orang yang hobi makan dan menceritakan apa yang mereka makan di akun media sosial mereka. Foodies punya peran penting karena review yang disampaikan biasanya apa adanya. Untuk foodies yang bersifat endorsement ataupun iklan, terkadang mereka juga meminta bayaran untuk postingan mereka. Daya tarik foodies endorsement adalah jumlah follower-nya. Tapi jangan terkecoh oleh jumlah follower yang banyak aja ya, perhatikan juga respon dari para follower-nya.

Jaman terus berkembang, cara promosi pun makin bervariasi. Yang paling penting adalah dicoba. Kalau ga dicoba, ga tau kan promosinya berhasil atau ga.

4) Harga

Harga juga memiliki peran penting untuk menarik pelanggan. Pastikan harga yang kamu cantumin itu reasonable ya.

Harga (photo courtesy of www.rethinkrealestatenj.com)

Kalau harga murah meriah dan makanannya enak, jamin deh orang pasti balik lagi. Tapi, kalau harga murah dan rasanya ga enak, ga semua orang mau balik lagi loh ya, kayak BD. Hehehe… Bagi BD, kalau mau makan di luar, pastinya mau cari yang bisa muasin lidah kita dong. Kalau murah tapi ga enak, ngapain. Mending masak sendiri, lebih murah lagi.

Contoh kasus: Ada satu restoran jual pempek, rasanya enak, harganya sesuai lah, Rp3.000. Setiap tahun kan ada inflasi tuh, pasti ada bahan yang harganya naik. Berhubung restoran ini mikirnya harus tetep murah di angka Rp3.000, kualitas bahan dan rasa jadinya diturunin. Nah ini yang bahaya untuk kelangsungan hidup restoran.

Disini point-nya bukan mau bilang harus naikin harga setiap tahun ya. Tapi, jangan menurunkan kualitas rasa karena mau mempertahankan harga lama saja. Kalau pembeli bilang harganya mahal, ya silakan pembeli cari harga yang lebih murah dengan kualitas yang sesuai. Secara pribadi, BD berprinsip bahwa you get what you paid for.

Kalau misalnya underpriced dan tetep enak gimana dong? That’s the best! Let us know too, so that we can go there in seconds. Hahaha…

Berikutnya, kalau overpriced? Bahaya juga karena bisa bikin orang mikir dua kali untuk nyobain. Pengalaman nyata yang BD alami itu sebagai berikut.

Ceritanya mau nyobain salah satu restoran Jepang di Batam nih. Pas masuk, keren deh dekorasinya, layout restorannya, kebersihannya, ok banget lah. Pas duduk dan liat menu, eh buset, harganya 2x harga standar. Kayak sushi roll yg isi 8 pcs gitu bisa Rp200ribu per porsi. Kalau Mr. BD dan Ms. BD makan berdua bisa sampai Rp1juta nih. Waduh, mikir lagi dah. Jadinya cabut lagi deh kita. Ga jadi nyobain. Hehehe…

So, usahakan kasih harga yang reasonable ya guys. Karena ini salah satu faktor yang bikin orang jadi beli atau ga dan balik lagi atau ga.

5) Konsep vs Nama Restoran

Konsep vs nama restoran (photo courtesy of www.sdflc.org)

Nama itu sangat penting. Usahakan menggunakan nama restoran yang mencirikan restoran kamu ya.

Contoh kasus: Nama restorannya adalah Exclusive Cafe. Bayangan orang kalau denger nama restoran ini, oh iya, kafe, bisa santai-santai di sofa terus sekedar makan snack sambil ngadem di AC. Waktu dateng, eh ternyata, meja makan biasa aja, ruangannya terbuka, ga pake AC, ga banyak dekorasi unik, ga ada hiburan musik, yah… ini sih kopitiam. Gagal konsep banget kan kalo kayak gitu.

Please avoid this mistake. Kalau mau buka restoran dengan kelas apapun, sesuaikanlah konsep dan nama restorannya. Jangan sampai pelanggan salah kaprah dan jadinya kecewa. Orang kalau ke kafe atau ke kopitiam, pasti udah ada budget-nya masing-masing dan harusnya willing to pay to get what they expect for.

Alright, that will be all for now. As for disclaimer, we are not a business expert. We just want to share our personal analysis to help you guys, the future successful entrepreneur. 😀 Mudah-mudahan tips and tricks Batam Dine bisa menambah wawasan kamu yang lagi pengen buka restoran ataupun yang pengen sukses di bisnis restoran. Biar makin banyak enterprenuer yang bisa mempekerjakan jutaan orang Indonesia nantinya. 🙂 Good luck and we’ll see you on top!

Kalau ada yang mau nambahin kiat-kiat sukses di bisnis restoran, feel free to comments below ya..

Batam Dine

http://instagram.com/BatamDine

http://facebook.com/BatamDine

http://twitter.com/BatamDine

Comments (4)

  • Titin May 20, 2016 - 4:54 pm Reply

    terima kasih sudah sharing, i’m your secret admirer, sukaaa banget n sering nge tam di sini ?

    • Batam Dine May 20, 2016 - 6:41 pm Reply

      Waaa… Senangnya ada secret admirer.. Yay.. Mudah2an artikelnya berguna ya..
      Yuk ketemuan sekali2 biar ga secret2 lagi.. Hehe..
      Btw, blog nya boleh tuh diaktifin lagi, biar qt jg bs jd secret admirer a supermom with 4 kids! 😀

    • Batam Dine May 24, 2016 - 2:20 pm Reply

      Thank you mas bro! Mudah2an bermanfaat bagi yang baca ya.. 😀

Leave a Reply